DISPORIA.CO, HOBI – Penuaan adalah salah satu hal yang tak bisa kita hindari. Seiring berjalannya waktu, kita dapat mengamati tanda-tandanya: lebih cepat merasa lelah, massa otot berkurang, kulit berkeriput, rambut beruban, dan lain sebagainya. Penyebab utama di balik proses ini adalah keberadaan sel-sel zombi di dalam tubuh kita. Sel-sel ini sebenarnya adalah timbunan sel tua yang sudah berhenti membelah. Akumulasi mereka lambat laun dapat mengubah DNA dan memicu sinyal pro-inflamasi (pro-inflammatory signaling), yang menyebabkan peradangan berlebihan. Situasi ini kemudian mengganggu keseimbangan pasokan energi ke seluruh jaringan sel dalam tubuh. Selain itu, mengalami stres yang tinggi juga dapat mempercepat ritme penuaan. Artinya, untuk tetap awet muda, kita perlu menyingkirkan sel-sel zombi tersebut dari tubuh.
Untungnya, ada pasukan alami dalam tubuh yang disebut sel pembunuh alami (natural killer cells) yang mampu membantu melakukan tugas ini. Sel-sel ini dapat dirangsang, salah satunya, melalui aktivitas fisik dan serebral (yang berhubungan dengan otak) yang dilakukan secara teratur. Beberapa penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (2014–2015), Spanyol (2015), serta Korea Selatan (2019) menyimpulkan bahwa kegiatan aktif seperti berolahraga, mempelajari hal-hal baru, dan berbicara dalam multibahasa dapat membantu otak tetap segar, sehingga mampu memegang kendali atas jarum jam biologi pemilik tubuh.
Pada November 2025 silam, temuan dari penelitian lintas 27 negara Eropa mengungkapkan fakta bahwa monolingualisme kemampuan seseorang berkomunikasi hanya dalam satu bahasa dapat mengurangi angka harapan hidup hingga lima tahun. Sementara itu, multilingualisme kemampuan seseorang menggunakan beberapa bahasa dapat menambah usia harapan hidup lebih dari tiga tahun. Artinya, semakin banyak bahasa yang dikuasai seseorang, semakin kuat pula perlindungan yang diperoleh otaknya. Penelitian pada tahun 2020 juga telah membuktikan bahwa orang bilingual menunjukkan gejala Alzheimer empat tahun lebih lambat dibandingkan orang monolingual. Alzheimer sendiri adalah penyakit otak yang menyebabkan penurunan daya ingat, melemahnya kemampuan berpikir dan berbicara, serta perubahan perilaku.
Aktivitas berganti-ganti antara dua bahasa menciptakan semacam cadangan pada kapasitas kognitif manusia. Kapasitas ini berkaitan dengan daya ingat, konsentrasi, bahasa, dan kemampuan-kemampuan lain yang memungkinkan kita merespons rangsangan. Dengan kata lain, orang yang memiliki cadangan kognitif lebih besar akan lebih tahan terhadap proses penuaan yang menggerogoti fungsi otaknya. Jadi, multilingualisme bukan hanya soal keterampilan berbahasa, tetapi juga ramuan awet muda yang menjaga otak tetap aktif sehingga dapat memperlambat penuaan.
Di Indonesia: Multibahasa secara alami
Di Tanah Air, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional justru menciptakan masyarakat yang multibahasa secara alamiah. Pasalnya, Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman bahasa. Terdapat lebih dari 300 suku dan lebih dari 700 bahasa daerah yang digunakan di seluruh nusantara. Individu yang tumbuh di Indonesia biasanya memiliki bahasa ibu bahasa yang diperoleh pertama kali berupa bahasa daerah, misalnya bahasa Batak, Minangkabau, Sunda, dan lain-lain. Mereka biasa menggunakan bahasa ibu tersebut dalam lingkup keluarga atau di tempat tinggalnya.
Selain itu, mereka akan menggunakan bahasa kedua—bahasa yang diperoleh melalui pembelajaran—misalnya bahasa Indonesia. Bahasa ini diperoleh secara formal di sekolah dan digunakan melalui praktik komunikasi antaretnis dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian, banyak orang Indonesia juga belajar bahasa asing—bahasa yang dituturkan secara resmi di luar Indonesia—contohnya bahasa Inggris di sekolah. Bahasa ini umumnya menjadi bahasa ketiga. Sementara itu, bahasa asing lainnya seperti bahasa Prancis, Jerman, Arab, dan sebagainya, akan menduduki posisi berikutnya sebagai bahasa keempat, kelima, keenam, dan seterusnya.
Memang, untuk memudahkan pengenalan, para ahli linguistik sering menyamarkan semua bahasa yang dipelajari setelah bahasa ibu sebagai “bahasa kedua”. Dalam praktiknya, seorang siswa di Indonesia bisa saja mempelajari bahasa daerah lain sebagai bahasa kedua, terutama jika ia bersekolah di luar wilayah bahasa ibunya.
Jangan karena terpaksa
Otak adalah pusat kendali tubuh yang menjaga seluruh fungsi vital. Gaya hidup sehat memastikan fisik tetap bugar, sementara belajar bahasa baru menjadi latihan penting untuk menjaga otak tetap aktif, tajam, dan tahan terhadap penuaan. Meskipun demikian, faktor sosial, ekonomi, dan kontekstual tidak kalah dominannya dalam menentukan keberhasilan pembelajaran bahasa kedua, terutama terkait dengan manfaat “resep awet muda” ini.
Para peneliti mengamati bahwa mereka yang belajar bahasa asing di negara-negara Eropa, pada umumnya, adalah orang-orang berpendidikan lebih tinggi, memiliki akses dan jejaring yang luas, serta menjalani gaya hidup sehat. Namun, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa manfaat kesehatan dari belajar bahasa tidak berlaku bagi imigran yang merasa terpaksa belajar, maupun bagi perempuan yang berada dalam situasi ketidaksetaraan gender. Kondisi belajar di bawah tekanan, stres, dan rasa terpaksa justru dapat meniadakan manfaat kognitif yang seharusnya diperoleh.
Sebaliknya, hasil terbaik muncul ketika bahasa kedua dipelajari sejak usia muda dan digunakan secara terus-menerus dalam kondisi yang kondusif. Tak heran jika pembelajaran bahasa kedua yang diwajibkan di sekolah sering kali tidak mencapai hasil yang optimal. Oleh karena itu, ruang belajar yang sehat dan mendukung perlu diciptakan di tengah masyarakat agar setiap orang dapat menikmati proses belajar bahasanya. Belajar bahasa kedua karena dorongan pribadi (motivasi internal) akan jauh lebih efektif, membahagiakan, sekaligus memperkecil risiko penuaan dini, dibandingkan sekadar memenuhi kebutuhan eksternal. [Red]

