Kenapa Dunia Makin Rentan Di Era Digital?

040978000 1701402857 Chor Tsang MHSjd0KByOc Unsplash 1024x576

DISPORIA.CO, TREND – Saat ini, kota-kota besar telah menjadi simbol pertumbuhan ekonomi. Baik di negara berkembang maupun negara maju, kota-kota dengan populasi 10 juta jiwa atau lebih menyumbang antara sepertiga hingga setengah dari produk domestik bruto masing-masing negara. Banyak analis dan pembuat kebijakan berpendapat bahwa tren ini akan terus berlanjut. Mereka meyakini bahwa meningkatnya pemanfaatan analisis data besar (big data) dan teknologi seluler akan mendorong pembangunan, mengubah metropolitan seperti Shanghai, Nairobi, dan Mexico City menjadi apa yang disebut sebagai “kota pintar” (smart cities). Kota-kota ini diharapkan mampu memanfaatkan populasi besar mereka untuk menggerakkan perekonomian sekaligus mengubah keseimbangan kekuatan global.

Namun, sebagai peneliti di bidang teknologi, kami melihat masa depan perkotaan yang kurang cerah. Alasannya, digitalisasi dan crowdsourcing (pengumpulan sumber daya dari banyak orang secara daring) justru akan merusak fondasi ekonomi megakota, yang biasanya dibangun di atas kombinasi sektor manufaktur, perdagangan, ritel, dan jasa profesional. Rumus pastinya memang berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain, tetapi semua kota besar pada dasarnya dirancang untuk memaksimalkan produktivitas dari populasi mereka yang sangat besar. Saat ini, kota-kota tersebut sangat bergantung pada skala ekonomi di mana peningkatan produksi menghasilkan keuntungan biaya serta pada penghematan dan manfaat dari menempatkan orang dan perusahaan dalam lingkungan dan klaster industri yang sama.

Namun, kemajuan teknologi kini sedang mengganggu model bisnis lama ini, dan mengancam masa depan kota-kota besar seperti yang selama ini kita kenal.

Manufaktur bermasalah

Salah satu contoh klasik dari teknologi baru yang bersifat disruptif adalah pencetakan 3D, yang memungkinkan individu untuk “mencetak” berbagai macam barang, mulai dari es krim hingga suku cadang mesin. Seiring dengan menyebarnya teknik yang efisien ini, beberapa mata rantai dalam proses produksi global akan tereliminasi. Dengan menghilangkan “perantara,” pencetakan 3D pada akhirnya dapat memangkas rantai pasokan menjadi hanya tersisa perancang di satu ujung dan produsen di ujung lainnya, sehingga secara signifikan menekan biaya produksi barang jadi. Hal ini tentu menguntungkan bagi margin keuntungan perusahaan transnasional dan konsumen, tetapi tidak demikian halnya dengan kota-kota industri, di mana sebagian besar infrastruktur transportasi dan pergudangan mereka mungkin akan segera menjadi usang. Pekerjaan di bidang manufaktur, logistik, dan penyimpanan yang sudah terancam di banyak lokasi besar kemungkinan akan segera terancam secara global.

Singkatnya, pencetakan 3D telah mengubah skala ekonomi yang lahir dari industrialisasi menjadi ekonomi yang berpusat pada individu atau kelompok kecil. Seiring dengan penyebarannya, banyak kota besar, khususnya pusat-pusat manufaktur di Asia seperti Dongguan dan Tianjin di Tiongkok, dapat memperkirakan akan terjadinya gangguan luas terhadap perekonomian dan angkatan kerja mereka.

Kemunduran pusat perbelanjaan

Sektor ritel mengalami transformasi yang serupa. Pusat perbelanjaan, misalnya, yang dulunya berkembang pesat di kota-kota besar, kini menderita akibat kemunculan e-commerce. Nilai jual utama pusat perbelanjaan selalu terletak pada skala ekonomi yang bergantung pada lokasi. Artinya, agar pusat perbelanjaan menguntungkan, mereka harus berada di dekat basis konsumen yang besar. Kota-kota besar dengan kepadatan penduduk tinggi adalah lokasi yang ideal untuk itu.

Namun, seiring dengan beralihnya toko-toko ke ranah daring, kota-kota besar kehilangan keunggulan kompetitif ini. Meskipun belanja daring belum sepenuhnya menggantikan ritel fisik, kemudahan dan kenyamanannya telah memaksa banyak pusat perbelanjaan di seluruh dunia untuk tutup. Di Amerika Serikat, jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan menurun hingga 50 persen antara tahun 2010 dan 2013. Kota-kota di Tiongkok, di mana pemerintah berupaya membangun ekonomi nasional berdasarkan konsumsi, akan terkena dampak yang sangat parah oleh fenomena ini. Tiongkok memiliki pasar e-commerce terbesar di dunia, dan diperkirakan sepertiga dari 4.000 pusat perbelanjaan di negara itu akan tutup dalam lima tahun ke depan.

Seiring dengan terus menyebarnya teknologi seluler yang bahkan menjangkau populasi di daerah terpencil sekalipun proses ini akan semakin cepat secara global. Tak lama lagi, situs-situs ritel seperti Amazon, Alibaba, dan eBay akan mengubah setiap ponsel pintar menjadi pusat perbelanjaan virtual, terutama jika impian pengiriman barang menggunakan drone benar-benar menjadi kenyataan.

Angkatan kerja baru

Perubahan di dunia bisnis juga akan mempengaruhi kota-kota di seluruh dunia. Berkat kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan otomatisasi berbagai tugas baik yang bersifat manual maupun kognitif kita kini bisa mengucapkan selamat tinggal pada teller bank dan manajer dana manusia, dan menyambut robot. Bahkan dalam pekerjaan yang tidak mudah diotomatisasi, ekonomi kerja lepas (gig economy) yang terdigitalisasi menempatkan orang-orang dalam persaingan langsung dengan pasokan pekerja lepas global untuk melakukan tugas-tugas yang remeh maupun yang terspesialisasi.

Tentu ada manfaat dari crowdsourcing. Dengan menggunakan AI dan pengetahuan yang dikumpulkan dari ribuan spesialis medis di 70 negara, Human Diagnosis Project telah membangun platform diagnosis global yang gratis untuk semua pasien dan dokter sebuah keuntungan khusus bagi orang-orang yang memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan publik. Namun, dengan menjadikan kolaborasi virtual sebagai andalan, model bisnis “awan manusia” (human cloud) juga membuat konsep kantor menjadi usang. Di masa depan, para profesional medis dari berbagai spesialisasi tidak perlu lagi bekerja berdekatan untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Hal yang sama berlaku untuk bidang-bidang lainnya.

Di dunia tanpa ruang kantor, pusat-pusat bisnis dan keuangan tradisional seperti New York dan London akan merasakan dampaknya, karena perencanaan kota, zonasi, dan pasar properti akan kesulitan menyesuaikan diri dengan kebutuhan perusahaan dan pekerja yang terus berubah.

Krisis sedang terjadi

Pada titik tertentu, semua perubahan ini kemungkinan akan berarti bahwa skala ekonomi menjadi jauh lebih kurang penting. Jika itu terjadi, ukuran populasi yang saat ini menjadi motor penggerak utama metropolis modern justru akan berubah menjadi beban. Kota-kota besar selama ini sudah bergumul dengan dampak negatif dari kepadatan penduduk dan urbanisasi yang cepat, termasuk penyakit menular, kekurangan infrastruktur penting, meningkatnya ketidaksetaraan, kejahatan, dan ketidakstabilan sosial. Seiring dengan terkikisnya basis ekonomi mereka, tantangan-tantangan tersebut kemungkinan akan menjadi semakin mendesak.

Dampak kerusakannya akan berbeda dari satu kota ke kota lain, tetapi para peneliti meyakini bahwa pergeseran mendalam yang sedang terjadi di sektor ritel, manufaktur, dan jasa profesional akan mempengaruhi ketujuh jenis megakota utama di dunia: raksasa global (Tokyo, New York), pusat Asia (Singapura, Seoul), gerbang yang sedang berkembang (Istanbul, São Paulo), pusat industri Tiongkok (Tianjin, Guangzhou), ibu kota pengetahuan (Boston, Stockholm), kota menengah Amerika (Phoenix, Miami), dan kota menengah internasional (Tel Aviv, Madrid).

Dan karena 60 persen PDB global dihasilkan hanya oleh 600 kota, kesulitan di satu kota dapat memicu kegagalan beruntun. Bisa jadi dalam 10 atau 20 tahun ke depan, kota-kota besar yang sedang kesulitan dapat menyebabkan krisis keuangan global berikutnya. Jika ramalan ini tampak suram, hal ini juga dapat diprediksi: seperti halnya industri, kota-kota besar harus beradaptasi dengan perubahan teknologi. Bagi mereka, inilah saatnya untuk mulai merencanakan masa depan yang penuh gejolak. [Red]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top