Dari Roman Hingga Jadi Film Terlaris, Ini Rahasianya

Keyvisual 1024x614

DISPORIA.CO, FILM – Di luar judul-judul klasik seperti Pride and Prejudice, fiksi roman secara historis jarang diadaptasi ke layar lebar maupun televisi, meskipun popularitasnya luar biasa tinggi. Namun, peta industri mulai berubah sejak serial Bridgerton (2020–sekarang) sukses besar. Fenomena ini memicu banjir artikel yang mengulas daftar novel roman mana saja yang layak diangkat ke layar kaca. Kini, gelombang adaptasi genre romansa mulai bermunculan di berbagai platform. Pertanyaannya, apa rahasia yang membuat transisi dari halaman buku ke layar benar-benar mampu memikat penonton?

Sejarah adaptasi novel roman

Adaptasi fiksi roman sebenarnya sudah melahirkan berbagai fenomena budaya populer berskala global, sebut saja Twilight (2008–2012), Fifty Shades of Grey (2015–2018), hingga trilogi To All The Boys I’ve Loved Before (2018–2021). Namun, jika menilik sejarahnya, adaptasi genre ini lebih sering diproduksi dengan anggaran rendah dan luput dari perhatian arus utama. Karya penulis kawakan seperti Nora Roberts dan Debbie Macomber telah lama menjadi “ladang emas” bagi film-film televisi besutan saluran Hallmark dan Lifetime. Bahkan, platform streaming Passionflix muncul di pasar pada tahun 2017 dengan misi tunggal: mengadaptasi novel roman ke layar kaca—termasuk film Lick (2024) karya penulis asal Australia, Kylie Scott.

Layanan streaming asal Kanada, Crave, telah menyulap sejumlah novel roman menjadi film televisi, termasuk Recipe for Romance (2025)—sebuah adaptasi dari buku Sweet on You karya penulis Filipina, Carla de Guzman. Raksasa teknologi Amazon pun tak mau ketinggalan dan mulai ikut terjun ke arena ini. Meskipun jumlah buku yang berhasil menembus layar lebar—dan menjadi bahan pembicaraan publik—masih tergolong kecil, tren ini mulai menunjukkan pergeseran nyata. Pada tahun ini saja, kita akan menyaksikan deretan adaptasi yang sangat dinanti, mulai dari The Love Hypothesis karya Ali Hazelwood, The Bodyguard dari Katherine Center, seri Off Campus milik Elle Kennedy, hingga novel populer Emily Henry, People We Meet On Vacation. Terlebih lagi jika kita berbicara tentang popularitas fenomenal yang mengubah peta industri dari adaptasi romansa besutan Crave yang dirilis akhir tahun 2025 lalu: Heated Rivalry.

Meskipun genre ini sudah lama digemari, romansa kini telah menjadi terlalu besar untuk diabaikan. Kehadiran komunitas BookTok dan Bookstagram telah membuat genre romansa—beserta basis audiensnya yang masif—menjadi jauh lebih terlihat dan berpengaruh dibandingkan sebelumnya.

Rahasia di balik adaptasi romansa yang sukses

Para pembaca setia genre romansa tidak akan ragu untuk menerima atau menolak mentah-mentah sebuah karya adaptasi. Semua itu bergantung pada apakah sang pencipta memahami dan menghayati genre ini, atau justru salah dalam merepresentasikannya—atau lebih buruk: meremehkan dan sekadar mengeksploitasinya. Serial Heated Rivalry menjadi bukti nyata ketika seorang pencipta benar-benar “memahami romansa”—meminjam istilah kriminalitas romansa dari Olivia Waite.

Serial ini mengisahkan Shane Hollander (Hudson Williams) dan Ilya Rozanov (Connor Storrie), dua pemain hoki yang saling bersaing, memulai hubungan rahasia sejak debut mereka hingga perlahan-lahan jatuh cinta. Heated Rivalry telah melampaui 600 juta menit durasi tontonan dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum. Kesuksesannya begitu masif hingga Netflix menjanjikan bahwa musim terbaru Bridgerton akan membawa penonton ke “the cottage” (vila kecil)—istilah yang merujuk pada episode ketiga serial tersebut yang kini identik dengan babak final dan akhir yang bahagia dalam Heated Rivalry.

Akhir yang bahagia (happy ending) memang menjadi elemen krusial dalam genre romansa, tetapi itu bukan satu-satunya hal yang berhasil dieksekusi dengan apik oleh Heated Rivalry. Meskipun tidak semua adaptasi novel roman harus meniru persis serial ini, siapa pun yang berencana mengadaptasi kisah cinta ke layar kaca sebaiknya mempelajari apa yang membuat serial ini begitu berhasil.

Novel roman pada dasarnya adalah kisah yang kecil dan padat. Ia berfokus pada ketertarikan pada sepasang kekasih (atau polikultur) serta perjalanan mereka menuju hubungan yang serius. Alur sampingan dan karakter pendukung hanya dianggap penting sejauh mereka menjadi bagian dari perjalanan cinta tersebut. Dalam dunia romansa, sang tokoh utamalah satu-satunya hal yang benar-benar dipedulikan oleh para penggemar. Inilah titik lemah Bridgerton. Meskipun setiap musimnya fokus pada pasangan utama yang baru, serial ini juga disibukkan dengan pengembangan alur cerita untuk karakter utama dari musim lalu hingga musim mendatang. Akibatnya, muncul tumpukan alur sampingan (subplot) yang sering kali justru mengalihkan fokus dari inti romansa utamanya.

Sebaliknya, Heated Rivalry secara konsisten memusatkan ceritanya pada Shane dan Ilya. Tayangan ini memang berlatar waktu selama sepuluh tahun—periode saat kedua pria tersebut dianggap menjalani kehidupan yang padat. Namun, sang kreator, Jacob Tierney, justru memilih untuk menyoroti momen-momen singkat dan sembunyi-sembunyi saat mereka bersama. Kisah cinta sekunder antara pemain hoki Scott Hunter (François Arnaud) dan kekasih rahasianya, Kip (Robbie CK), sebagian besar terisolasi dalam episodenya sendiri. Hubungannya pun dibuat sangat jelas terhadap plot utama di akhir episode kelima.

Alur percintaan harus menjadi pusat, dan harus diperlakukan dengan kesungguhan serta bobot emosional yang mendalam. Romansa pada dasarnya adalah genre yang tulus. Ia sering kali jenaka, tetapi tidak pernah ironis. Red, White & Royal Blue (2023), yang diadaptasi dari novel karya Casey McQuiston, menuai ulasan beragam karena dianggap terlalu rumit dalam merepresentasikan kompleksitas yang ada di bukunya. Namun, salah satu keberhasilannya adalah keberanian untuk memperlakukan alur cinta berkonsep tinggi—antara seorang pangeran Inggris dan putra presiden Amerika Serikat—dengan sangat serius. (Akhir bahagia mereka pun berkelindan dengan konteks politik yang lebih luas: kemenangan pemilihan kembali di AS yang mewakili kubu liberal, serta janji monarki yang lebih progresif.)

Cinta yang menjadi jantung novel roman—beserta kebahagiaan dan harapan yang menyertai akhir bahagianya—adalah masalah serius, dan harus diperlakukan demikian agar sebuah adaptasi bisa meraih kesuksesan. Aspek romansa ini sering kali dicap sebagai “kesenangan terlarang”, sesuatu yang dianggap sebagai pemandangan atau layak dijadikan bahan olok-olok. Padahal, sulit untuk menjelaskan betapa pentingnya elemen tersebut bagi keberhasilan genre ini.

Kesalahan terburuk yang bisa dilakukan oleh sebuah adaptasi roman adalah merasa malu terhadap asal-usulnya. Para pembaca genre romansa sangat peka ketika seseorang mencibir mereka, atau saat ada pihak yang mencoba meraup keuntungan dari pasar yang menggiurkan ini sambil berusaha “mengangkat derajat” genre tersebut dengan cara mengikis prinsip dasar dan kesenangan intinya. Heated Rivalry menjadi satu-satunya adaptasi yang sepenuh hati merangkul genre romansa; menempatkan cinta sebagai garda terdepan dan bersandar kuat pada ketulusan. Kita tentu berharap akan ada lebih banyak adaptasi di masa depan yang mampu memetik pelajaran berharga dari serial ini. [Red]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top