Ingin Anak Cepat Bisa Baca, Ajari Musik!

Tuts Piano Tidak Keras Sehingga Dapat Dipencet Oleh Bayi Sekalipun 1024x667

DISPORIA.CO, MUSIK – Para pakar dari Neurosains telah menemukan hubungan yang jelas antara musik dan penguasaan bahasa. Secara sederhana, belajar musik di tahun-tahun awal sekolah dapat membantu anak-anak belajar membaca. Proses pengembangan kemampuan bermusik dan berbahasa ternyata tumpang tindih di dalam otak. Dari perspektif evolusi, otak manusia mengembangkan kemampuan bermusik jauh lebih awal sebelum bahasa muncul, dan kemudian menggunakan pemrosesan tersebut untuk menciptakan serta mempelajari bahasa.

Saat lahir, bayi memahami bahasa seolah-olah bahasa itu adalah musik. Mereka merespons irama dan melodi dari bahasa sebelum mereka mengerti apa arti dari kata-kata yang diucapkan. Bayi dan anak-anak meniru bahasa dengan menggunakan elemen irama dan melodi tadi. Gaya bicara bernyanyi inilah yang kita kenal dan kita cintai pada balita.

Kenapa Musik

Kemampuan membaca meliputi kemampuan berbicara, dan untuk belajar berbicara, anak-anak harus terlebih dahulu dapat membedakan suara ucapan dari suara-suara lainnya. Musik membantu mereka melakukan hal tersebut. Membaca pada dasarnya adalah proses memberikan makna pada kata-kata yang ada di dalam suatu tulisan. Ada beberapa keterampilan yang membantu kita untuk menemukan makna kata-kata tersebut, salah satunya adalah keterampilan untuk membedakan antara suara yang terdengar dalam kata-kata, serta kelancaran membaca.

Kelancaran membaca mencakup kemampuan untuk menyesuaikan pola tekanan dan intonasi sebuah frasa misalnya dari ekspresi marah menjadi bahagia serta kemampuan untuk memilih nada suara yang tepat, seperti pada kata tanya dan kata seru. Keterampilan dalam membedakan intonasi ini dapat ditingkatkan dengan latihan musik. Anak-anak yang memiliki keterampilan musik juga terbukti memiliki keterampilan membaca yang lebih baik. Musik bahkan dapat memberikan petunjuk mengenai kesulitan yang dihadapi anak ketika membaca.

Sebuah penelitian menemukan bahwa anak berusia tiga atau empat tahun yang mampu mengikuti irama musik dengan stabil lebih siap untuk membaca pada usia lima tahun, dibandingkan dengan anak-anak pada kelompok usia yang sama yang tidak dapat mengikuti irama musik.

Langkah Orang Tua

Belajar bahasa dimulai sejak dini, ketika orang tua berbicara dan bernyanyi kepada anak-anak mereka. Ikatan antara bayi dengan orang tua dan komunitasnya awalnya terbentuk melalui suara. Jadi, bernyanyi untuk bayi Anda dapat membentuk ikatan dengan mereka sekaligus merangsang jaringan pendengaran mereka. Membawa balita ke kelas musik dengan kurikulum yang baik dan berkualitas tinggi setiap minggunya akan membangun keterampilan bermusik yang terbukti sangat efektif dalam membantu proses belajar membaca. Sangat penting untuk mencari kelas dengan kegiatan yang mencakup gerakan dan bernyanyi. Kelas tersebut juga sebaiknya menggunakan instrumen musik—atau mainan yang mengeluarkan musik dengan kualitas yang baik.

Ketika anak-anak memasuki masa prasekolah (PAUD) waktu yang dianggap penting untuk perkembangan bahasa mereka carilah program pembelajaran musik dengan kurikulum yang baik dan diberikan setiap hari oleh pendidik yang berkualitas. Lagu-lagu, irama, dan aktivitas ritmik yang diberikan kepada anak-anak kita di prasekolah dan tempat penitipan anak sebenarnya sedang mempersiapkan mereka untuk membaca. Program musik harus membangun kemampuan bermusik anak secara bertahap. Program tersebut harus mendorong anak-anak untuk bernyanyi sesuai dengan melodi, menggunakan instrumen, dan selanjutnya mengenal bentuk-bentuk musik yang terstruktur serta improvisasi musik.

Anak-anak juga harus diajari untuk membaca notasi musik dan simbol saat mempelajari musik. Pembelajaran ini memperkuat koneksi antara simbol dan suara, yang juga sangat penting dalam membaca kata-kata. Yang terpenting, belajar musik secara aktif adalah kunci keberhasilan belajar bahasa. Hanya mendengarkan musik pasif tidak banyak membantu perkembangan bahasa anak; bahkan dapat menghambat kemampuan mereka untuk membedakan kata-kata.

Hal ini bukan berarti anak-anak membutuhkan keheningan total untuk belajar. Sebaliknya, mereka membutuhkan berbagai macam suara di sekitar mereka dan kemampuan untuk memilih stimulasi pendengaran yang dibutuhkan oleh otak mereka. Beberapa siswa memerlukan suara agar dapat fokus, sementara yang lain justru membutuhkan keheningan. Setiap preferensi tersebut dipengaruhi oleh jenis pembelajaran yang mereka lakukan. Suara di dalam sebuah ruangan tidak hanya mempengaruhi tingkat gangguan, tetapi juga berkaitan dengan kualitas suara yang timbul. Suara rem yang melengking setiap tiga menit, suara AC yang keras, musik yang dapat membantu sebagian orang tetapi mengganggu yang lain, serta berbagai suara lainnya semuanya berdampak pada kemampuan anak untuk belajar.

Guru dapat membiarkan siswanya antusias dalam pelajaran dengan menciptakan gangguan yang masih dalam batas wajar, namun juga menyediakan headphone untuk menyaring suara di ruang kelas bagi siswa yang membutuhkannya.

Musik untuk semua orang

Jaringan sistem pendengaran kita adalah sistem yang pertama dan terbesar di dalam otak yang berfungsi untuk mengumpulkan informasi. Musik dapat meningkatkan kemampuan jaringan yang membantu menerjemahkan bahasa di otak. Musik mempersiapkan anak-anak untuk belajar membaca sekaligus mendukung hobi membaca mereka. Sayangnya, anak-anak dari keluarga atau komunitas yang terpinggirkan sering kali tidak mendapatkan pelajaran musik yang baik di sekolah. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa justru mereka yang dapat memperoleh manfaat terbesar dari pembelajaran musik. Sementara kita terus mencari cara untuk meningkatkan hasil pembelajaran membaca pada anak-anak, pemberian pendidikan musik yang lebih banyak pada masa prasekolah (PAUD) dan sekolah dasar mungkin menjadi salah satu jalan yang dapat kita tempuh. [Red]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top