DISPORIA.CO, TREND – Presiden Prabowo Subianto dikenal sebagai pemimpin yang kerap melontarkan pernyataan di luar teks resmi saat berpidato. Gaya orasinya yang khas, penuh dengan candaan, sindiran tajam, hingga pernyataan kontroversial, sering kali membuat para diplomat dan staf komunikasi Istana gelisah. Selama dua tahun masa kepresidenannya, gaya bicara spontan Prabowo yang kerap mengabaikan naskah ini terus menjadi sorotan publikmulai dari celetukan “londo ireng” yang menyasar wartawan, ucapan kasar “ndasmu”, pernyataan “rakyat desa tak pakai dolar” di tengah pelemahan rupiah, hingga kekeliruan soal klaim senjata nuklir Iran yang sampai memicu sanggahan resmi dari Kedubes Iran pada akhir Juli 2026.
Namun, di balik semua draf pidato yang terkadang dibaca dan terkadang diabaikan oleh Prabowo, terdapat sosok Dirgayuza Setiawan yang bertugas merangkai dan menuangkan gagasan sang presiden ke dalam tulisan. Pria kelahiran 1989 ini secara resmi menjabat sebagai Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi sejak 8 Oktober 2025 posisi yang setara dengan wakil menteri berdasarkan Keppres Nomor 33/M Tahun 2025.
Dalam pelantikan yang sama, Agung Gumilar Saputra juga diangkat sebagai Asisten Khusus Bidang Analisa Data Strategis. Tugas utama Dirgayuza berfokus pada kepenulisan, yaitu menyusun naskah-naskah kepresidenan serta menuangkan visi politik Prabowo ke dalam sejumlah buku strategis.
Salah satu karya terbarunya adalah Pangan Biru MBG, yang terbit pada Desember 2025 melalui AmafradPress KKP. Buku yang ditulis bersama Doni Ismanto Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan ini mengupas potensi kelautan untuk menunjang program makan bergizi gratis (MBG), lengkap dengan resep berbahan dasar ikan dan udang. Doni mengungkapkan bahwa Dirgayuza adalah penggagas ide awal sekaligus penyusun kerangka besar dan perspektif ekonomi-politik di balik buku tersebut.
Kiprah Dirgayuza di dunia perbukuan telah lama terjalin. Sebelumnya, ia telah menulis Presiden Solusi, Inilah Prabowo Apa Adanya, dan Nilai-nilai Pendekar Pejuang: Prinsip Hidup Prabowo, serta menjadi editor untuk karya-karya penting Prabowo seperti Paradoks Indonesia dan Kepemimpinan Militer Jilid I dan II.
Hubungan erat Dirgayuza dengan Prabowo telah terbangun sejak masa kecil. Ayahnya, Boyke Setiawan salah satu pendiri SMA Taruna Nusantara dan dokter pribadi sekaligus sahabat dekat Prabowo membuat Dirgayuza sudah mengenal Prabowo sejak usianya delapan bulan. Kedekatan ini kian akrab saat masa remaja karena kesamaan hobi berkuda.
Jejak karier Dirgayuza di lingkaran dalam Prabowo cukup panjang. Selepas lulus Ilmu Politik dari Melbourne University pada 2011, ia langsung dipercaya untuk mengelola media sosial Prabowo dan Partai Gerindra, serta aktif dalam tim pemenangan Pilpres 2014. Setelah kekalahan tersebut, ia melanjutkan studi S2 di Oxford University dengan gelar Master of Social Science of the Internet pada 2015, sempat berkarir di McKinsey & Company, lalu bergabung dengan Kementerian Pertahanan pada 2019 di era Sakti Wahyu Trenggono.
Pengalamannya berlanjut ke Kementerian Kelautan dan Perikanan, turut mengawasi Bandara Halim Perdanakusuma, hingga menjabat sebagai Direktur PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero). Setelah menyelesaikan tugas di PT RNI, Prabowo mengundangnya berbuka puasa di Istana pada Maret 2025, mengangkatnya sebagai staf pribadi, dan akhirnya melantiknya sebagai asisten khusus.
Meskipun tim penyusun naskah telah menyiapkan materi, Prabowo kerap dengan sengaja memamerkan sikapnya yang mengabaikan teks tersebut. Dalam pidato pada HUT ke-28 PKB di Jakarta, 23 Juli 2026, ia berkelakar sambil menunjukkan berkas pidatonya: “Mau dibacakan? Jangankan kalian, aku pun bisa tidur di podium ini.”
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, mengakui bahwa kebiasaan bicara “tanpa rem” ini kerap membuat para penasihat Istana cemas. Meski demikian, Qodari menilai gaya tersebut justru mencerminkan kejujuran dan ketulusan Prabowo yang dikenal dengan selorohan apa adanya.
Dirgayuza sendiri tidak mau disebut sebagai ghostwriter atau pencipta gagasan utama. Dalam wawancara dengan Tempo dan unggahan di LinkedIn, ia menegaskan bahwa Prabowo adalah penulis pidatonya sendiri. Dirgayuza hanya menganggap dirinya sebagai juru ketik, pencatat, dan editor, yang kerap menerima koreksi atau voice note dari Prabowo di tengah malam untuk dimasukkan ke dalam naskah.
Dosen Ilmu Komunikasi UMY, Fajar Junaedi, menilai bahwa kecenderungan Prabowo keluar dari teks adalah strategi membangun citra sebagai pemimpin yang spontan dan autentik. Baginya, naskah pidato dari tim hanyalah “peta” yang boleh ditinggalkan, bukan “jalur rel” yang harus dilalui secara kaku.
Namun, analis politik dari Indonesia Political Opinion, Dedi Kurnia Syah, mengingatkan bahwa gaya nonformal ini bagaikan pedang bermata dua. Kekeliruan fatal, seperti kesalahan data terkait senjata nuklir Iran, menunjukkan risiko besar dari pendekatan ini. Dedi berpendapat bahwa sebagai kepala negara, sudah saatnya Prabowo menahan diri dan kembali pada standar etika elit kenegaraan untuk menjaga martabat serta wibawa kepresidenan.
Editor: Redaksi



