DISPORIA.CO, TEKNOLOGI – Saat Anda mengenakan earbud nirkabel sebelum berlari, kemungkinan besar Anda tidak memikirkan sistem teknologi yang memungkinkan perangkat itu bekerja—atau kolaborasi internasional yang memakan waktu lebih dari satu dekade hingga Bluetooth menjadi standar global seperti sekarang.
Padahal, kemampuan untuk menghubungkan AirPods dengan tablet Lenovo atau ponsel Google ke speaker Bose bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Dengan arah perdagangan global yang berubah, ada kemungkinan masyarakat Amerika di masa depan tidak lagi menikmati akses semudah itu terhadap teknologi seperti Bluetooth.
Setahun setelah Trump mengumumkan “Hari Pembebasan” dari tatanan perdagangan global pasca-Perang Dunia II, kebijakan tersebut berpotensi meninggalkan dampak jangka panjang, terutama melalui rezim tarif yang ia dorong—meskipun sebagian besar telah dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Bahkan jika presiden berikutnya menghapus sebagian tarif yang tersisa—yang cukup mungkin karena Trump banyak bertindak lewat kekuasaan eksekutif—efek dari perang dagangnya sudah terasa. Kebijakan itu mempercepat pergeseran dari sistem perdagangan bebas yang telah berlangsung hampir 80 tahun, menuju dunia dengan pasar yang lebih terfragmentasi. Aliran perdagangan berubah arah, dan blok-blok ekonomi regional mulai terbentuk.
Perubahan ini berdampak besar pada sektor teknologi. Selama ini, kerja sama lintas negara memungkinkan inovasi berkembang lebih luas dan memberikan manfaat besar bagi konsumen sekaligus mempermudah pemasaran bagi perusahaan. Karena itu, muncul lembaga internasional yang mengatur standar global—mulai dari domain internet hingga emoji. Namun kini, belum jelas apakah inovasi di masa depan masih bisa berkembang dengan tingkat kolaborasi yang sama.
Philip Luck memperingatkan bahwa jika kerja sama global terus menyusut dalam pengembangan teknologi seperti Bluetooth dan 6G, maka kualitas produk bisa menurun. “Kita bisa saja hanya memiliki teknologi yang semakin buruk,” ujarnya.
Asal-usul Bluetooth
Pada awal 1990-an, para insinyur di berbagai negara berusaha menemukan cara menghubungkan komputer dengan ponsel. Solusi pertama yang efektif datang dari Ericsson di Stockholm: koneksi nirkabel berdaya rendah berbasis gelombang pendek.
Ericsson kemudian bekerja sama dengan perusahaan besar lain seperti IBM, Toshiba, Nokia, dan Intel untuk membentuk Bluetooth Special Interest Group. Tujuannya sederhana: menyatukan standar agar perangkat dari berbagai produsen tetap kompatibel.
Menurut Jim Kardach dari Intel, gagasannya adalah agar perusahaan-perusahaan besar menggunakan teknologi radio yang sama, bukan menciptakan sistem yang terpecah-pecah seperti sebelumnya.
Nama “Bluetooth” sendiri berasal dari Raja Viking Harald Blåtand, yang dikenal karena menyatukan Denmark dan Norwegia—sebuah simbol dari penyatuan teknologi.
Kini, Bluetooth SIG memiliki lebih dari 40.000 anggota di seluruh dunia. Pada 2024, sekitar 5 miliar perangkat Bluetooth dikirim secara global, dan diperkirakan meningkat menjadi 7,7 miliar pada 2029. Teknologi ini telah menjadi standar di hampir semua smartphone dan berbagai perangkat lain.
Keberhasilan ini menunjukkan bagaimana adopsi global meningkatkan nilai suatu teknologi—membuatnya lebih universal dan mudah dijual di berbagai pasar.
Ancaman Geopolitik
Namun, dominasi Bluetooth mulai terancam oleh ketegangan geopolitik. Ketika AS memasukkan Huawei ke daftar hitam pada 2019, beberapa organisasi internasional, termasuk Bluetooth SIG, sempat menghentikan keterlibatan perusahaan tersebut.
Sebagai respons, Huawei mengembangkan teknologi alternatif bernama NearLink, yang diklaim lebih hemat energi dan memiliki jangkauan lebih luas dibanding Bluetooth. Diluncurkan pada 2023, teknologi ini didorong menjadi standar nasional di China.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang China untuk mencapai kemandirian teknologi, termasuk melalui program “Made in China 2025” yang mencakup sektor-sektor seperti robotika dan kecerdasan buatan.
Kebijakan Trump yang ingin mengurangi ketergantungan AS pada China justru memperkuat arah tersebut.
Dampak “Hari Pembebasan”
Ketika Trump mengumumkan “Hari Pembebasan,” ia menyebutnya sebagai tonggak penting dalam sejarah ekonomi AS. Kebijakan tarif besar-besaran yang ia terapkan memicu reaksi global, termasuk perang dagang dengan China.
Tarif tinggi diberlakukan pada hampir semua negara, melanggar prinsip perdagangan global yang selama ini berlaku. Tujuannya adalah memperkuat industri dalam negeri dengan membuat barang impor lebih mahal.
Pendukung kebijakan ini melihat manfaatnya dalam bentuk peningkatan lapangan kerja dan keamanan nasional. Namun, dampaknya juga mencakup penurunan perdagangan global dan perubahan hubungan ekonomi internasional.
Perdagangan antara AS dan China sempat anjlok drastis, meskipun kemudian mereda setelah kesepakatan sementara. Namun, efek jangka panjangnya tetap terasa.
Selain itu, negara-negara lain mulai merespons dengan strategi mereka sendiri, seperti kampanye “Beli Produk Kanada” dan upaya membangun blok perdagangan baru.
Perusahaan-perusahaan global juga menyesuaikan rantai pasokan mereka agar lebih dekat dengan pasar domestik, menghindari dampak tarif.
Konsekuensi Jangka Panjang
Perubahan ini tidak berarti runtuhnya sistem perdagangan global, tetapi menciptakan dunia dengan beberapa sistem paralel yang saling bersaing. Dampaknya bisa berupa berkurangnya efisiensi dan meningkatnya biaya bagi bisnis dan konsumen.
Meski Gedung Putih membantah adanya kerugian, beberapa ahli menilai dampak terbesar justru pada inovasi. Jika pasar global menyusut, insentif perusahaan untuk berinvestasi dalam riset juga bisa menurun.
Masa Depan Inovasi
Saat ini, sebagian besar penelitian dan pengembangan didanai oleh sektor swasta, bukan pemerintah. Perusahaan teknologi besar sangat bergantung pada pasar global untuk membiayai inovasi mereka.
Jika akses ke pasar internasional berkurang, pendapatan menurun, dan anggaran riset ikut terpangkas.
Di sisi lain, negara-negara seperti China dan Uni Eropa mulai mendorong kemandirian teknologi mereka sendiri. Eropa bahkan mempertimbangkan membangun infrastruktur digital mandiri untuk mengurangi ketergantungan pada perusahaan AS.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa dunia mungkin bergerak menuju sistem teknologi yang terpecah, bukan lagi satu standar global seperti sebelumnya.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya adalah: apakah inovasi di masa depan masih bisa berkembang secara global, atau justru terfragmentasi oleh batas-batas geopolitik?



