Gila Warga Dunia Makin Gemuk, Ini Penyebabnya

Obesitas Pada Anak Dan Remaja Sinyal Bahaya Yang Sering Diabaikan 1024x682

DISPORIA.CO, LIFESTYLE – Meningkatnya angka obesitas di seluruh dunia telah mendorong Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk mendesak berbagai negara agar mengenakan pajak pada minuman manis, yang dianggap sebagai salah satu penyebab utama menyebarnya epidemi ini. Negara-negara dengan budaya kuliner yang sangat berbeda, seperti Meksiko dan Palau, ternyata menghadapi risiko gizi yang serupa dan mengikuti tren obesitas yang sama. Para peneliti berusaha memahami mengapa hal ini terjadi, dengan meneliti hubungan antara berbagai aspek globalisasi—seperti perdagangan, penyebaran teknologi, dan pertukaran budaya—terhadap perubahan pola kesehatan dan pola makan di seluruh dunia.

Sebuah studi global baru-baru ini melaporkan bahwa secara global, proporsi orang dewasa yang kelebihan berat badan atau mengalami obesitas meningkat dari 29 persen pada tahun 1980 menjadi 37 persen pada tahun 2013. Negara-negara maju masih memiliki jumlah penduduk dengan kelebihan berat badan yang lebih banyak dibandingkan negara berkembang, namun kesenjangan tersebut semakin menipis. Di Kuwait, Kiribati, Federasi Mikronesia, Libya, Qatar, Tonga, dan Samoa, tingkat obesitas di kalangan wanita bahkan melampaui 50 persen pada tahun 2013.

WHO mengidentifikasi pola nutrisi yang tidak sehat, bersama dengan meningkatnya kurangnya aktivitas fisik, sebagai pendorong utama kenaikan berat badan di seluruh dunia. Pola makan yang kaya akan gula, produk hewani, dan lemak merupakan faktor risiko penting untuk berbagai penyakit tidak menular, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes, dan beberapa jenis kanker. Pada tahun 2012, penyakit kardiovaskular saja menewaskan 17,5 juta orang, menjadikannya penyebab kematian nomor satu di dunia. Karena lebih dari tiga perempat dari kematian tersebut terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang menyebabkan beban ekonomi besar bagi sistem kesejahteraan publik mereka, WHO pun mengklasifikasikan penyakit kronis terkait makanan sebagai ancaman yang terus meningkat secara global—setara dengan masalah kesehatan masyarakat tradisional seperti kekurangan gizi dan penyakit menular.

Dunia Barat memang menjadi kawasan pertama yang mengalami peningkatan berat badan signifikan pada populasinya, tetapi abad ke-21 telah menyaksikan fenomena itu menyebar ke seluruh dunia. Dalam sebuah artikel yang banyak dikutip pada tahun 1993, Profesor Barry Popkin dari Universitas North Carolina mengaitkan pergeseran ini dengan “transisi nutrisi”, di mana pola makan berubah dari yang semula didominasi oleh makanan pokok bertepung, buah-buahan, dan sayuran, menjadi lebih kaya akan lemak (terutama dari produk hewani), gula, dan makanan olahan. Menurut Popkin, berbagai tahapan transisi ini berkaitan dengan faktor sosial dan ekonomi, seperti tingkat industrialisasi, peran perempuan dalam angkatan kerja, dan ketersediaan teknologi pengolahan pangan.

Ini Faktornya

Meningkatnya persentase penduduk yang kelebihan berat badan, serta perubahan pola makan secara umum, tampak bertepatan dengan proses globalisasi. Tidak dapat disangkal bahwa globalisasi telah mempengaruhi kehidupan masyarakat dalam berbagai cara, namun apakah ia benar-benar menjadi penyebab transisi nutrisi? Untuk menjawab pertanyaan ini, para peneliti menganalisis dampak globalisasi terhadap perubahan pola makan dan prevalensi kelebihan berat badan menggunakan data dari 70 negara berpenghasilan tinggi dan menengah selama periode 1970 hingga 2011.

Mereka menemukan bahwa globalisasi telah mendorong orang untuk mengonsumsi lebih banyak produk daging. Menariknya, dimensi sosial dari globalisasi—seperti penyebaran ide, informasi, gambar, dan manusia—bertanggung jawab atas efek ini, bukan perdagangan atau aspek ekonomi globalisasi lainnya. Sebagai contoh, jika Turki mampu mengejar tingkat globalisasi sosial yang lazim di Prancis, maka konsumsi daging di Turki diperkirakan akan meningkat sekitar 20 persen. Analisis ini telah memperhitungkan efek peningkatan pendapatan; jika tidak, hasilnya bisa saja terpengaruh oleh hubungan antara pendapatan yang lebih tinggi yang membuat teknologi komunikasi dan produk daging menjadi lebih terjangkau.

Namun, meskipun penelitian menunjukkan bahwa globalisasi mempengaruhi pola makan, para peneliti tidak dapat menemukan hubungan langsung antara globalisasi dan peningkatan berat badan. Salah satu penjelasan untuk hasil ini mungkin karena mereka meneliti pertanyaan tersebut dari perspektif umum, tanpa mempertimbangkan keadaan spesifik masing-masing negara. Jadi, meskipun secara rata-rata di seluruh dunia globalisasi tampaknya bukan pendorong utama meningkatnya obesitas, ia mungkin tetap memainkan peran penting di negara-negara tertentu.

Hindari Olahan

Interpretasi alternatif dari hasil yang kurang jelas ini adalah bahwa faktor-faktor lainlah yang bertanggung jawab atas meningkatnya prevalensi kelebihan berat badan di seluruh dunia. Misalnya, peningkatan konsumsi makanan olahan sering dikaitkan dengan meningkatnya tingkat berat badan. Sebuah studi di Amerika Serikat menunjukkan bahwa warga Amerika memperoleh tiga perempat dari asupan energi mereka dari makanan olahan, yang mengandung kadar lemak jenuh, gula, dan natrium yang jauh lebih tinggi dibandingkan makanan segar.

Meningkatnya ketersediaan makanan olahan berkaitan erat dengan pesatnya ekspansi industri ritel. Teknologi logistik modern membantu para peritel untuk memusatkan pengadaan dan inventaris, yang menurunkan biaya dan memungkinkan penetapan harga yang sangat kompetitif. Setelah mendominasi pasar Barat, supermarket mulai menyebar ke negara-negara berkembang yang memiliki prospek pertumbuhan lebih besar. Amerika Latin, Eropa tengah, dan Afrika Selatan mengalami ledakan toko bahan makanan pada tahun 1990-an. Peritel kemudian membuka cabang di Asia, dan kini mulai memasuki pasar-pasar di negara-negara Afrika.

Salah satu aspek yang menarik namun masih kurang dieksplorasi dalam diskusi tentang makanan olahan adalah peran perusahaan multinasional dalam menawarkan “diet Barat” yang tidak sehat, seperti makanan cepat saji dan minuman ringan. Perusahaan multinasional merupakan salah satu dari dua pemimpin pasar di banyak negara berkembang, termasuk Brasil, India, Meksiko, dan Rusia, dan mereka dikenal dengan iklan makanan dan minuman dalam skala besar. Namun, masih belum jelas apakah orang bertambah berat badan karena mereka mengadopsi pola makan Barat secara utuh, atau apakah mereka sebagian besar mempertahankan selera terhadap masakan daerah tetapi mengubah komposisi nutrisi dari resep tradisional dengan menambahkan lebih banyak produk daging, lemak, dan gula.

Jangan Asal Makan

Selain faktor-faktor dari sisi penawaran, beberapa studi yang berbasis pada data AS juga mengaitkan prevalensi kelebihan berat badan dengan perubahan di pasar tenaga kerja, khususnya peningkatan partisipasi perempuan. Di satu sisi, ibu yang bekerja mungkin memiliki lebih sedikit waktu untuk menyiapkan makanan atau mendorong anak-anak mereka untuk menghabiskan waktu aktif di luar rumah. Di sisi lain, jam kerja yang lebih banyak cenderung meningkatkan pendapatan keluarga, yang dapat mempengaruhi kesehatan anak secara positif melalui akses yang lebih baik ke layanan kesehatan, makanan berkualitas tinggi, partisipasi dalam kegiatan olahraga terorganisir, dan perawatan anak yang lebih berkualitas.

Karena keputusan untuk bekerja bersifat pribadi dan sangat terkait dengan karakter serta lingkungan individu, sulit untuk menetapkan hubungan sebab-akibat antara status pekerjaan dan tingkat kelebihan berat badan anak. Beberapa penelitian melaporkan efek positif, tetapi bukti yang dapat diandalkan masih langka. Penelitian-penelitian ini juga cenderung berfokus pada peran perempuan yang bekerja tanpa menyoroti laki-laki, padahal tidak ada bukti yang menunjukkan perbedaan dampak antara ibu yang bekerja dan ayah yang bekerja.

Selain itu, semakin banyak orang yang bekerja dengan sistem shift malam bergilir. Menurut tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Organisasi Buruh Internasional, sekitar satu dari lima karyawan di Uni Eropa (25 persen) bekerja shift malam, dan kerja malam seringkali merupakan bagian integral dari sistem kerja shift. Jadwal seperti itu kemungkinan besar mempersulit pembentukan kebiasaan makan yang teratur dan dapat mendorong kebiasaan ngemil yang sering untuk menjaga konsentrasi di tempat kerja. Terakhir, karena teknologi modern telah sangat mengurangi tuntutan fisik di banyak tempat kerja, individu harus mengonsumsi lebih sedikit kalori untuk menghindari kenaikan berat badan.

Meskipun banyak penjelasan terkait globalisasi tentang obesitas tampak masuk akal, bukti empiris yang kuat untuk menetapkan hubungan sebab-akibat masih langka. Hal ini sebagian disebabkan oleh fakta bahwa makanan dan kebiasaan makan memiliki banyak faktor penentu yang seringkali saling terkait, sehingga sulit untuk menguji dampak sebab-akibat dari satu faktor tunggal. Kesulitan ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa beberapa penyebab obesitas yang diusulkan saling berinteraksi dan berpotensi saling memperkuat. Terlepas dari berbagai bukti akademis awal yang ada, pendorong utama dari meningkatnya tingkat obesitas global sebagian besar masih tetap menjadi misteri. [Red]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top