DISPORIA.CO, INTERNASIONAL – Kondisi ekonomi Iran yang udah boncos sebelum konflik pecah, sekarang makin parah abis. Jutaan orang pada kehilangan kerja dan terancam miskin ekstrem. Nukil laporan CNN International, Rabu (29/04/2026), perang dua bulan lawan AS dan Israel udah bikin hampir semua sektor industri lumpuh, dari kilang minyak, tekstil, sampe layanan penerbangan dan jurnalistik.
Asal, seorang desainer lepas di Teheran, cerita gimana perang ngebunuh mata pencahariannya dalam semalam gara-gara internet diputus selama dua bulan. Tanpa akses global, dia kehilangan semua proyek luar negeri dan sekarang pemasukannya udah gak cukup buat bayar kebutuhan dasar.
“Tidak ada proyek baru, tidak ada balasan. Rasanya seperti semuanya berhenti begitu saja dalam semalam,” kata Asal melalui sambungan telepon.
Kondisi ini ngegambarin nasib jutaan warga Iran lainnya yang terseret ke jurang kemiskinan. Pendapatan per kapita nasional anjlok dari US8.000(Rp138.024.000)di2012jadicumaUS 5.000 (Rp 86.265.000) di 2024. Program Pembangunan PBB (UNDP) ngeprediksi sekitar 4,1 juta orang tambahan bisa jatuh miskin gara-gara konflik berkepanjangan ini.
Kerusakan fisik dari ribuan serangan udara juga gila-gilaan banget. Laporan dari EcoIran nyebutin lebih dari 23.000 pabrik dan perusahaan kena rudal. Wakil Menteri Kerja dan Jaminan Sosial Iran, Gholamhossein Mohammadi, bilang serangan itu langsung ngilangin satu juta lapangan kerja.
“Kerusakan fisik tersebut telah merenggut satu juta pekerjaan secara langsung,” ujar Mohammadi.
Sementara publikasi Etemad Online ngira-ngira efek domino perang udah bikin satu juta orang lainnya keluar dari angkatan kerja.
Hadi Kahalzadeh dari Quincy Institute nambahin bahwa gangguan di jalur kiriman dan impor bikin 50% pekerjaan di Iran berisiko gede banget. Inflasi tahunan di bulan Maret bahkan udah nyentuh angka 72%, yang bikin banyak perusahaan stop operasi karena tekanan inflasi, resesi, dan hancurnya permintaan pasar.
“Banyak perusahaan telah menangguhkan operasional di bawah tekanan gabungan dari perang, inflasi, resesi, dan runtuhnya permintaan,” tulis Kahalzadeh.
Sektor industri berat kayak kilang petrokimia dan pabrik baja juga kena sasaran serangan udara Israel bulan lalu, maksa ribuan pekerja cuti tanpa dibayar. Dampaknya nyebar ke industri hilir, kayak produsen trailer Maral Sanat yang terpaksa pecat 1.500 pekerja karena stok baja kurang, serta perusahaan tekstil Borujerd yang nge-RIP 700 karyawannya.
Krisis ini juga ngehajar sektor transportasi udara, kayak yang dialami pramugari senior bernama Soheila yang kontrak kerjanya abis di bulan Maret tanpa kepastian kapan penerbangan bakal lanjut lagi. Dia cerita semua jadwal penerbangannya dibatalkan mendadak, gajinya pun ilang.
“Saya baru saja hendak berangkat untuk penerbangan ketika rekan saya menelepon dan mengatakan semuanya telah dibatalkan. Kontrak kami berakhir pada bulan Maret, jadi sampai penerbangan dilanjutkan, kami tidak akan dibayar,” ungkap Soheila kepada situs berita Fararu.
Lonjakan pengangguran keliatan dari data resmi yang nunjukin 147.000 orang ngajuin asuransi pengangguran dalam dua bulan terakhir—tiga kali lipat dari tahun lalu. Jafar, seorang analis data yang perusahaannya tutup total, sekarang bahkan mikir buat jadi driver ojol demi bertahan hidup di tengah utang dan biaya sewa rumah yang numpuk.
“Sekarang saya berpikir untuk bekerja di layanan transportasi daring hanya untuk bertahan hidup. Saya memiliki sewa dan hutang yang harus dibayar, dan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya,” tutur Jafar.
Pemerintah Iran sendiri nuduh bahwa penderitaan ini adalah konsekuensi dari “perang yang tidak adil” yang dipaksakan sama AS dan Israel. Sebagai langkah darurat, pemerintah dilaporkan berencana memperluas pemberian voucher bulanan buat bantu warga paling miskin dapetin barang pokok. Sementara koran konservatif Ettelaat ngewarning bahwa pemerintah mungkin perlu segera terapin program khusus buat ekonomi masa perang.
Editor: Redaksi



