DISPORIA.CO, INTERNASIONAL – Jepang kembali bertindak untuk menyelamatkan mata uang yen yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada Kamis (30/5/2026), kurs dolar AS sempat diperdagangkan di atas 160 yen.
Angka tersebut dianggap sebagai “garis merah” bagi pemerintah dan bank sentral Jepang karena berpotensi memicu dampak besar terhadap ekonomi domestik.
Pelemahan yen dikhawatirkan akan memperparah kenaikan harga barang impor, terutama energi dan kebutuhan pokok, sehingga membebani rumah tangga serta pelaku usaha kecil.
Karena itu, Jepang kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk pertama kalinya sejak Juli 2024. Lantas, langkah apa saja yang diambil Jepang untuk menyelamatkan yen?
Cara Jepang menyelamatkan nilai tukar Yen ke Dolar AS
Otoritas Jepang segera melakukan intervensi untuk menguatkan nilai tukar yen. Mereka khawatir penurunan tajam kurs yen yang terus dibiarkan bisa membuat mata uang Jepang itu jatuh ke tingkat yang berdampak besar pada kehidupan sehari-hari.
Yen yang lemah dan harga minyak mentah yang melonjak di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat memberikan pukulan telak bagi rumah tangga dan perusahaan kecil melalui lonjakan harga banyak produk di negara tersebut. Berikut adalah beberapa upaya intervensi yang dilakukan Jepang:
- Membeli yen di pasar valuta asing hingga 32 miliar dolar AS
Dilansir dari RTHK, sehari setelah yen melemah, Bank Sentral Jepang melakukan intervensi yang menghabiskan dana 32-38 miliar dolar AS atau sekitar Rp 562-668 triliun untuk menyelamatkan yen.
Data tersebut dihitung dari perkiraan pelaku pasar berdasarkan data deposito rekening giro yang dirilis oleh Bank Sentral Jepang pada 1 Mei 2026. Pihak berwenang Jepang diyakini telah membeli dolar senilai 5-6 triliun yen dalam intervensi tersebut.
- Pemerintah bertindak tegas
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, juga ikut memberikan intervensi saat yen mulai melemah. Dia memperingatkan bahwa tindakan tegas akan segera dilakukan.
“Yang ingin saya katakan adalah Anda harus selalu membawa ponsel pintar Anda, termasuk saat Anda berada di luar rumah dan beristirahat di rumah,” kata dia, dikutip dari The Japan Times.
Tak hanya Katayama, Menteri Keuangan untuk Urusan Internasional Jepang, Atsushi Mimura, juga mengeluarkan peringatan yang menargetkan para pedagang spekulatif.
“Ini adalah imbauan terakhir kami bagi (pelaku pasar) untuk menarik diri (dari perdagangan spekulatif),” kata Mimura, masih dari sumber yang sama. Setelah pernyataan Mimura dan Katayama, dolar anjlok hingga sekitar 155,50 per yen dalam perdagangan luar negeri.
Diyakini hanya berdampak sementara
Kendati demikian, banyak analis percaya bahwa dampak dari intervensi baru ini tidak akan memberikan efek jangka panjang dalam menopang mata uang yen yang melemah. Hal ini karena tidak ada perubahan pada faktor-faktor mendasar yang berkontribusi pada pelemahan yen, seperti pembelian dolar sebagai aset aman yang dipicu oleh krisis Timur Tengah dan kesenjangan suku bunga antara Jepang dan Amerika Serikat.
Mantan Gubernur Bank Sentral Jepang, Haruhiko Kuroda, berpendapat bahwa intervensi mata uang hanya akan berdampak panjang jika menimbulkan kerugian besar bagi para spekulator, atau cukup kuat untuk mengubah sentimen pasar.

“Otoritas Jepang mengambil tindakan tegas terhadap penurunan nilai yen yang berlebihan kali ini. Namun, sulit untuk mengharapkan langkah tersebut akan memiliki efek jangka panjang pada yen,” kata Kuroda, dilansir dari Reuters.
Menurutnya, serangan kebijakan moneter baru-baru ini hanya memberikan dampak untuk mencegah yen jatuh di atas 160 per dolar AS. Akan tetapi, dampak intervensinya biasanya tidak berlangsung lama.
“Kemungkinan yen tidak akan turun di bawah 160 per dolar karena pihak berwenang tampaknya turun tangan untuk mempertahankan level tersebut,” kata dia.
Sejarah intervensi Jepang di pasar mata uang
Yen melonjak 3 persen dalam jam perdagangan London setelah Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, memperingatkan bahwa tindakan tegas akan segera dilakukan. Para pejabat telah turun tangan untuk membeli yen setelah nilainya merosot ke level terlemah terhadap dolar AS sejak Juli 2024. Dikutip dari Reuters, berikut ini sejarah intervensi Jepang di pasar mata uang selama 15 tahun terakhir:
15 September 2010: Jepang melakukan intervensi di pasar mata uang untuk pertama kalinya dalam enam tahun. Negara itu menjual yen untuk membendung kenaikan mata uang tersebut setelah dolar mencapai titik terendah dalam 15 tahun di angka 82,87 yen.
18 Maret 2011: Kelompok Tujuh (G7) negara bersama-sama melakukan intervensi untuk membendung penguatan yen ketika mata uang tersebut melonjak ke rekor tertinggi setelah gempa bumi.
Agustus dan Oktober 2011: Otoritas Jepang melakukan intervensi untuk menahan kenaikan harga yang dikhawatirkan para pejabat dapat menggagalkan pemulihan dari kemerosotan ekonomi yang dipicu oleh gempa bumi dan tsunami dahsyat pada 11 Maret 2011.
10 Juni 2022: Pemerintah dan bank sentral Jepang mengeluarkan pernyataan bersama yang jarang terjadi. Keduanya menyatakan keprihatinan mereka atas penurunan tajam yen baru-baru ini setelah melemah di bawah 134 per dolar AS.
7 September 2022: Juru bicara pemerintah terkemuka, Hirokazu Matsuno, menyatakan keprihatinannya tentang pergerakan “cepat dan sepihak” yang terlihat di pasar mata uang setelah yen melemah di bawah 143 per dolar AS.
21-24 Oktober 2022: Jepang menggunakan 6,3499 triliun yen untuk intervensi mata uang guna menopang yen. Intervensi dilakukan melalui pembelian yen dan penjualan dolar terbesar yang pernah dilakukan negara itu pada saat itu.
27 Maret 2024: Bank Sentral Jepang, Kementerian Keuangan, dan Badan Jasa Keuangan Jepang mengadakan pertemuan setelah yen jatuh ke level terendah dalam 34 tahun terhadap dolar, dan mengisyaratkan bahwa mereka siap untuk melakukan intervensi.
April-Mei 2024: Jepang melakukan intervensi pembelian yen dalam satu hari yang memecahkan rekor pada 29 April 2024, setelah mata uang tersebut mencapai 160,245 per dolar. Kondisi tersebut diikuti oleh putaran intervensi lainnya pada 1 Mei dengan total 9,79 triliun yen.
26 Juni 2024: Diplomat mata uang terkemuka, Masato Kanda, mengatakan bahwa pihak berwenang Jepang sangat prihatin dan siaga tinggi dalam merespons penurunan pesat yen.
11-12 Juli 2024: Pemerintah Jepang menghabiskan 5,53 triliun yen untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing. Hal ini dilakukan supaya yen melonjak dari titik terendah 161,76 per dolar AS menjadi titik tertinggi 157,30 per dolar AS.
Editor: Redaksi



