Yudi Latif: Pancasila Tidak Terancam Para Pembencinya, Tapi Terluka Oleh Mereka Yang Mengaku Paling Mencintainya

2017 07 20 30028 1500557763. Large 1024x683

DISPORIA.CO, POLITIK – Ketika seorang akademisi sekaligus penulis berbagai buku tentang Pancasila, Prof. Dr. Yudi Latif, ditanya “Siapa pengancam Pancasila?”, beliau menjawab bahwa Pancasila sebenarnya tidak terancam oleh mereka yang membencinya. Justru, Pancasila terluka oleh mereka yang mengaku paling mencintainya.

“Bahkan lima sila yang ada di Pancasila malah kini sebagai lima luka. Setiap 1 Juni, kita mengenang kelahirannya. Namun jarang memeriksa nasibnya,” ujar Yudi kepada KBA News pada Senin sore, 1 Juni 2026.

Menurutnya, meskipun Pancasila terpajang di dinding, korupsi tetap berakar dalam sistem. Pancasila dibacakan dalam upacara, tetapi keadilan masih mengantre di pintu kuasa. Pancasila menjadi slogan pidato, sementara rakyat kerap hanya pelengkap penderita.

Di atas mimbar, persatuan dielukan, namun di lapangan, perpecahan dipanen sebagai modal politik. Di sekolah, anak-anak diajari bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat, tetapi dalam praktiknya, rakyat sering dicari hanya ketika suaranya dibutuhkan.

“Kita tidak kekurangan orang yang berbicara Pancasila. Yang langka adalah mereka yang rela kehilangan privilese demi menjalankannya. Sebab cinta kepada Pancasila tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari keberanian menghidupkannya,” ujarnya.

Maka pada Hari Lahir Pancasila, pertanyaan pentingnya bukanlah: “Apakah rakyat masih percaya kepada Pancasila?” Melainkan: “Apakah para pemegang kuasa masih takut mengkhianatinya?”

“Krisis terbesar bangsa bukan ketika rakyat kehilangan hafalan, melainkan ketika elite kehilangan rasa malu: ketika jabatan dianggap warisan, hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kritik diperlakukan sebagai ancaman, dan kekuasaan lebih sibuk menjaga diri daripada melayani negeri. Saat itulah Pancasila berubah dari kompas menjadi dekorasi,” ungkap Yudi.

Menurutnya, yang dibutuhkan bukanlah lebih banyak seremoni, baliho, atau pidato, melainkan keteladanan berupa hukum yang tak memilih nama, jabatan yang tak melayani keluarga, kekuasaan yang mau dikoreksi, dan pemimpin yang lebih suka mendengar daripada haus pujian.

Yudi yang di masa pemerintahan Presiden Jokowi memutuskan mengundurkan diri sebagai Kepala BPIP selanjutnya menyatakan bahwa sebenarnya Pancasila tidak meminta Indonesia menjadi sempurna. Ia hanya meminta bangsa ini terus mendekati cita-citanya: ketuhanan yang melampaui simbol, kemanusiaan yang melampaui belas kasihan, persatuan tanpa pembungkaman, demokrasi yang lebih dari prosedur, dan keadilan yang bukan hak istimewa.

“Ingat, bangsa jarang runtuh karena kekurangan semboyan. Ia retak ketika nilai dipuja dalam pidato, diabaikan dalam praktik. Dan Pancasila, barangkali, tidak sedang meminta diperingati. Ia sedang menunggu dijalankan,” kata Yudi Latif.

Editor: Redaksi

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top