DISPORIA.CO, OPINI – Siapa yang tidak kenal dengan mama Ghufron? Seorang manusia dengan nama lengkap Abuya Ghufron Al-Bantani yang kemudian ditokohkan oleh masyarakat setempat karena gayanya yang unik dalam menyampaikan dakwah. Entahlah, dakwah yang disampaikan barangkali baginya menyangkut persoalan bangsa, negara dan tentunya juga katanya tentang Islam.
Bahasa yang digunakan tidak hanya bahasa Jawa dan Indonesia dalam berdakwah, melainkan “bahasa Suryani” yang tidak ada seorang pun menguasainya kecuali dia sendiri. Uniknya, salah satu contoh bahasa Suryani yang viral “syududu” kemudian ramai karena diparodikan dan dijadikan bahan meme penolakan minjam uang.
Adakah orang merasa terpengaruhi oleh gaya dakwahnya? Atau bahasanya yang kemudian banyak interpretasi tambahan?
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkirakan sejumlah 28 juta penduduk di Indonesia mengalami permasalahan kesehatan mental, termasuk depresi. Secara simultan, kelompok remaja menjadi kelompok paling rentan, karena tantangan akademik dan pekerjaan.
Seringkali dokter memberikan saran dalam menangani depresi anak muda dengan kombinasi medis melalui berbagi cerita dan psikoterapi, bahkan juga penanganan melalui obat antidepresan untuk memberikan dampak secara maksimal.
Alih-alih dalam penanganan yang serius, Mama Ghufron pernah bilang bahwa dia adalah orang yang menyelamatkan Jakarta, menghilangkan corona, menyelesaikan kasus hilangnya motor, bahkan menyelamtakan NU. Ini menandakan bahwa dia bisa menyelasaikan apa saja, apalagi soal depresi ini. Jangan diragukan soal beliau, karena katanya “betul atau tidak?”
Gus Muhammad Faiz pernah beranggapan bahwa Mama Ghufron merupakan nikmat terbesar dan berjasa bagi dirinya. Pasalnya, kenikmatan yang dimaksud bukan persoalan fatwa atau dalih penistaan agama. Baginya melihat Mama Ghufron adalah letih yang berkurang, sedih yang hilang, dan bahagia ya pasti bersamaan dengan cekikikan yang tidak tertahan.
Menurut pakar Psikologi mengatakan bahwa konten yang bersifat Humor lebih cenderung diterima dan mudah dishare, karena tidak hanya menghibur, tapi bikin kesehatan mental tetap stabil dan menurunkan gejala depresi. Makanya jangan dicaci, apalagi jika dishare di platform tiktok, tinggal tonton dan ekspresikan sendiri.
Ghufron di Indonesia sudah jadi “Icon” bahasa Suryani yang melebihi kadar batasan menjadi manusia biasa. Jangankan ngobrol sama semut, sama malaikat dan Iblis pun dia sudah punya kontak Whats App (WA) untuk menanyakan solusi atau sekedar menanyakan informasi langsung dari Tuhan.
Bisa saja, dalam mengatasi depresi dan permasalahan mental tidak selalu tentang perobatan yang mahal dan medis, barangkali dengan melihat hal-hal yang lucu atau konten yang lucu bisa menguranginya, contohnya video Mama Ghufron. Betul atau tidak?
Penulis:
Darby Marhaen (Penikmat Hal Receh)



