Biar Masa Tua Mu Tidak Bosan, Ini Saran Buku Untukmu!

Bacabuku Primary 1024x576

Di awal proses ini, saya membayangkan melacak buku-buku nonfiksi Indonesia yang penting dibaca bukan pekerjaan yang sulit. Saya salah. Cukup banyak memang, buku nonfiksi Indonesia yang berkualitas di atas rata-rata, tak peduli keringnya pasar buku nonfiksi di luar kiat sukses, resep masak, serta trik Photoshop. Judul-judul nonfiksi yang diterbitkan Marjin Kiri, Ombak, Indie Book Corner selalu memikat penggemarnya dan beberapa di antaranya digarap secara serius. Namun, pertanyaannya, bagaimana memilih sembilan yang penting dibaca?

Maka saya putuskan, buku-buku yang masuk dalam daftar ini tak selalu buku yang lebih baik dari yang lain. Namun, bagi saya, akan terjadi apabila pembaca yang menggemari isunya tidak menyambanginya.

Mereka adalah buku-buku yang digarap dengan sangat serius, berdampak atau mempunyai nilai sejarah penting di bidangnya, menjadi penanda satu generasi, atau berpotensi mengu

Kendati demikian, daftar ini akhirnya harus Anda terima dengan kualitas. Pengamatan dan pemilahan saya, tentu saja, terhalau bias selera, jejaring sosial, serta janji menerawang semua buku yang ada.

‘Menyatakan! Kamar Kerja Penerbit Jogja’, Adhe (2007)

Fakta bahwa buku ini dapat terbit saja sudah mengagumkan saya. Menyatakan! Memuat sebuah studi independen yang paling menyeluruh tentang seluk-beluk dunia penerbitan di Yogyakarta. Ia adalah satu buku yang, jelas, ditulis dengan cinta. Hasilnya? Sebuah gambaran yang sulit ditandingi kelengkapannya tentang kesemrawutan, keganjilan, kegigihan, serta publikasi di Yogyakarta.

Apakah sentimen saya sebagai penerbit (Penerbit Kepik) mengambil andil dalam pemilihan buku ini sebagai buku wajib baca? Tentu saja. Sejak waktu yang cukup lama, Deklarasikan! adalah bacaan wajib para pegiat buku.

Tetapi bila Anda adalah pembaca awam, buku yang diterbitkan Komunitas Penerbit Jogja ini dijamin tidak akan gagal menghibur Anda. Anda akan mengetahui bagaimana produk literasi yang sampai di tangan Anda, yang Anda pikir muncul dari proses nan profesional, sebenarnya diproduksi melalui kerja-kerja “bergaya rumah tangga”.

‘Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula’, Ultimus (2015)

Sewaktu pertama kali menemukan serial buku “ untuk pemula ” terbitan Icon Books (silakan Google!), saya kontan mengangankan ada buku serupa untuk memperkenalkan kepada publik di Indonesia isu-isu penting yang terkesan rumit dan mengintimidasi. Misalnya, sejarah gagasan tentang Indonesia, dan bagaimana ia mengarungi zaman. Persoalannya, ia menuntut kerja sama—dan kerja ekstra—editor, penggagas, ilustrator, dan saya tak yakin hasilnya akan berbayar bila ia diterbitkan di dalam negeri.

Satu peristiwa yang juga tak saya duga adalah berkat kerja sama sejumlah aktivisme buku semacam itu kini terbit. Hasilnya pun bukan buku sembarangan. Ia adalah buku yang memang diperlukan di tengah penistaan ​​berlarut-larut terhadap gagasan dan gerakan kiri, yang membuat kita alpa akan andilnya dalam perjuangan melawan pembekuan.

Pembaca awam akan menemukan gambaran yang memikat tentang isu ini. Para pembaca sejarah, yang sudah mengetahui seluk-beluk sejarahnya terlebih dulu, akan merayakannya.

Serial ‘Lagak Jakarta’, Benny dan Tikus (1997-2008)

Menurut penerbitnya, Lagak Jakarta awalnya merupakan sebuah eksperimen. Bagaimana kalau mereka menerbitkan satu buku yang menggambarkan secara jenaka seluk-beluk keseharian warga Jakarta? Tampaknya ini sepele. Namun, pada hari-hari itu, eksperimen ini cukup berani. Pasar buku di Indonesia tidak pernah benar-benar ramah terhadap buku kartun terbaik pengarang dalam negeri.

Dalam perjalanannya, Lagak Jakarta tak hanya mencetak kesuksesan. Ia bukan hanya menggambarkan jenaka keseharian warga Jakarta. Ia menjadi penulis kronik sejarah serta menggambarkan etnografi kehidupan ibu kota yang ditulis dari kehidupan sehari-hari—yang kontras dengan apa yang biasa kita peroleh dari catatan-catatan para pengkaji dan juru komentar.

Sepanjang pengamatan saya, belum ada buku sejarah Indonesia yang mencatat segala rupa reaksi serta sentimen orang awam terhadap krisis 1998 , dari ketakutan terhadap rilis hingga keriangan sewaktu Soeharto membatalkan diri, sebagaimana Lagak Jakarta melakukannya.

Pembaca mungkin tidak ingat krisis ekonomi Indonesia yang disampaikan oleh Piala Dunia yang menghibur sebagian orang. Pembaca mungkin juga tidak ingat euforia kebebasan dari sensor sewaktu Orde Baru baru saja lengser . Lagak Jakarta dapat mengingatkan pembaca sewaktu-waktu dengan sejarah kehidupan sehari-hari yang sangat mudah luput ini.

Mungkin bias saya sebagai peneliti antropologi, yang terobsesi dengan detail mendorong saya memilih serial ini sebagai karya wajib baca.

‘Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru’, Daniel Dhakidae (2003)

Konon, penulis buku ini memanfaatkan tahun-tahun terakhirnya bekerja di sebuah koran besar tanah air ( Kompas ), yang tentu saja memiliki gudang data yang lengkap, untuk menyusun buku ini. Hasilnya adalah sebuah studi ekstensif tentang bagaimana kerja dan kehidupan para cendekiawan tak pernah lepas dari intervensi kekuasaan, secara halus maupun vulgar.

Nyaris dua dasawarsa kemudian selepas Orde Baru, buku ini masih penting untuk dibaca. Ia mencatat manuver-manuver negara untuk menjadikan para ilmuwan bergantung serta tak membangkang darinya. Ia menampilkan bagaimana temuan penelitian serta pengetahuan yang dihasilkan, yang galib diterima begitu saja, dikendalikan dari peperangan oleh kekuatan yang menguasai sumber-sumber penghidupan. Dan membaca hari ini mengasah kepekaan kita terhadap watak berpihak dari setiap bentuk pengetahuan yang dianggap ilmiah sekalipun.

Sebagai pengamat ilmu sosial, saya telah menyetujui buku ini yang sudah saya tulis pada beberapa kesempatan . Namun, persetujuan ini, bagi saya pribadi pun, tak menyurutkan arti penting buku Daniel Dhakidae.

‘Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut’, Adrian B. Lapian (2009)

Ada beberapa nama sejarawan yang bisa disebut karyanya di daftar ini. Namun, bila harus Merujuk satu orang yang menulis karya monumental dalam bahasa Indonesia, nama yang akan tersebut adalah Adrian B. Lapian. Bukunya? Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut . Buku ini merupakan gambaran sejarah kawasan laut Sulawesi yang bertumpu pada tiga kelompok yang menjadi judul bukunya.

Yang mengagumkan dari buku ini adalah ia dibangun dari usaha pencarian sumber yang sangat intensif, serta paparan data yang sangat kaya. Dalam percakapan dengan rekan-rekan sejarawan, buku Lapian masih menjadi standar emas tentang bagaimana kisah seharusnya berhasil hingga hari ini.

‘Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga’, George Junus Aditjondro (2007)

George Junus Aditjondro adalah seseorang yang menulis tanpa rasa takut. Tentu saja itu baru satu hal. Ia pun mengantongi sumber-sumber data yang luas. Ia mempunyai argumentasi yang, kalaupun tidak sepenuhnya dapat dipercaya, tidak mudah dibantah. Dan buku Korupsi Kepresidenan adalah salah satu dari antara karya yang paling perlu diperhatikan.

Buku ini menampilkan bagaimana kekuasaan kepresidenan di Indonesia dilanggengkan dari waktu ke waktu. Banyak orang sudah cukup mengetahui bahwa presiden bukanlah jabatan yang diberikan oleh mandat rakyat belaka.

Tetapi, paparan George akan tetap mengagetkan siapa pun. Dalam buku ini, modus-modus memantapkan kekuasaan didedah sedemikian detail. Jejaring aktor serta lembaga yang bekerja mempertahankannya diungkap tanpa tedeng aling-aling. Dan satu hal yang menjadi tampak gamblang: hubungan-hubungan penuh skandal sangat esensial bagi berlangsungnya kekuasaan.

Satu hal lagi yang kian menggugah saya mengatakan ini buku nonfiksi yang wajib dibaca adalah George menulisnya dalam predikat sebagai sosiolog—yang berpihak, sangat berpihak. Dengan melakukan ini, ia mencontohkan bagaimana intelektual dan penulis seyogianya bekerja dengan kritis.

Jagad kesusastraan Indonesia diberkahi dengan nama-nama penacatat tekun seperti HB Jassin dan A. Teeuw. Namun, saya memilih buku Afrizal Malna dengan satu alasan penting. Afrizal adalah salah satu dari segelintir penatat sekaligus pengarang yang peka dengan politik estetika dalam kerja mencatat.

Perbandingan-perbandingan antara karya sastra yang dilakukannya terbilang kaya. Daftar literatur yang dikajinya lebih luas dibandingkan kebanyakan karya kritik yang saya temukan. Dan yang paling mendesak: ia menampik kategori-kategori yang cepat dipakai namun jarang diperbincangkan dalam kesusastraan Indonesia. Ia menolak kelirihan sebagai keindahan. Ia menolak adanya modernitas dan tradisionalitas. Ia mengajukan topik dan penelaahan yang asli.

Dan, percayalah, bagi pembaca sastra, pandangan-pandangannya disampaikan dengan argumentasi yang kuat—meski tidak selalu terang untuk dibaca semua kalangan.

‘Matahari dari Mataram’, Afthonul Afif (2012)

Saya mengakui, saya curang dalam memilih buku ini. Matahari dari Mataram: Menyelami Spiritualitas Jawa rasional Ki Ageng Suryomentaram merupakan terbitan dari penerbit saya, Penerbit Kepik. Namun, saya pada akhirnya tidak bisa menggugurkannya dari daftar ini karena inilah satu-satunya karya yang, sejauh pengamatan saya, menjawab pertanyaan banyak orang, “adakah sosok filter Indonesia?”

Jawabannya? Ada. Tetapi, ia muncul bukan di menara gading. Ia muncul sebagai tokoh pengajar ilmu kebahagiaan pada era Renaisans Jawa awal abad ke-20. Dan bila Anda mengira sebagai pemberi kebahagiaan ia adalah pemikir yang mistis, pikir lagi.

Bukan tanpa alasan orang-orang menyebut “Heidegger dari Jawa”. Kawruh Jiwa, ajarannya, adalah strategi pemeliharaan kondisi psikis yang berangkat dari identifikasi-identifikasi empiris. Nama sosok ini adalah Ki Ageng Suryomentaram, anak ke-55 dari Sultan Hamengku Buwono VII.

Pilu menjumpai kemelaratan rakyat kecil, Suryomentaram meninggalkan kehidupannya di keraton dan hidup sebagai seorang petani. Pada saat inilah, ia berusaha menjawab persoalan ketidakbahagiaan yang mengganggu manusia dan menyusun Kawruh Jiwa. Buku ini merupakan kumpulan tulisan yang mengkaji sosoknya dari berbagai sisi.

‘Berebut Hutan Siberut’, Darmanto dan Abidah B. Setyowati (2012)

Ada beberapa buku dari penelitian etnografi yang dihasilkan di Indonesia dan banyak dari mereka yang mengangkat isu-isu penting.

Akan tetapi, bukuBerebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan, dan Politik Ekologi memilih tema yang secara spesifik relevan dengan situasi kebudayaan kita hari ini. Buku ini menggambarkan bagaimana pengendalian terhadap hutan—Siberut dalam kasus ini—berubah, diperebutkan, dan ditegakkan.

Namun, berkat kepekaan penelitian para penulisnya, di buku ini akan tampak bahwa orang-orang adat bukanlah kelompok yang terjebak dalam kearifan masa lalu. Orang-orang Siberut, dalam kasus yang dikaji buku ini, merupakan kelompok yang gigih menata ulang identitasnya untuk menghadapi perubahan-perubahan dalam eksploitasi hutan. Mereka selalu berada di antara pergulatan kepentingan pemerintah, usahawan kapitalis, LSM.

Selayaknya sebuah karya etnografi yang baik, kekuatan buku ini adalah pada potretnya yang hidup, mendetail, serta peka. Tak banyak, sepengetahuan saya, buku tentang ekologi Indonesia dengan kualitas ini. [Red]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top