Gen Z, Sudah Suka Marah Gampang Ditipu Lagi

Gen Z Tiktok Creator 1024x610

DISPORIA.CO, GEN Z – Sebuah video dimulai dengan huruf merah tebal yang bertuliskan: “Kecurangan Pemilu Pendahuluan Demokrat 2024 TERTANGKAP DALAM VIDEO.” Kemudian disusul oleh serangkaian rekaman keamanan yang buram, yang memperlihatkan contoh-contoh kecurangan penghitungan suara yang terang-terangan. Hanya ada satu masalah: klip-klip tersebut sebenarnya menggambarkan kecurangan pemilu yang terjadi di Rusia bukan Indonesia

Pertanyaannya, apakah Anda akan termakan umpan itu? Sebenarnya, pencarian cepat di Google akan dengan mudah mengungkap sumber video yang meragukan tersebut, beserta artikel-artikel berita yang membantah klaimnya. Namun, ketika para peneliti dari Stanford yang mempelajari literasi media kaum muda yaitu kemampuan untuk mengevaluasi informasi secara akurat di tengah derasnya arus media massa memperlihatkan video tersebut kepada 3.446 siswa sekolah menengah, hanya tiga orang yang berhasil mengidentifikasi keterkaitannya dengan Rusia.

“Ada mitos tentang generasi digital, bahwa karena sebagian orang tumbuh besar dengan perangkat digital, mereka sudah cukup mampu memahami informasi yang diberikan oleh perangkat tersebut,” kata Joel Breakstone, yang memimpin studi pada tahun 2021. “Hasilnya sangat mengejutkan.”

Ini adalah kenyataan yang mencengangkan tentang Generasi Z, yang didukung oleh berbagai studi dan juga dapat kita saksikan sendiri: generasi yang paling intensif menggunakan internet ini ternyata juga paling buruk dalam membedakan fakta dari fiksi di dunia maya. Hal ini menjadi masalah besar karena internet dan khususnya media sosial kini telah menjadi sumber berita utama bagi generasi muda.

Dalam penelitian tersebut, sekitar tiga dari lima orang Gen Z (yang saat ini berusia antara 13 hingga 26 tahun) mengatakan bahwa mereka mendapatkan berita dari media sosial setidaknya sekali seminggu. TikTok menjadi platform yang sangat populer: 45 persen dari mereka yang berusia antara 18 dan 29 tahun mengaku sebagai konsumen berita reguler di aplikasi tersebut.

Meskipun media sosial dapat membuat berita lebih mudah diakses, kontrol kualitas informasi di platform tersebut juga sangat minim. Dan meskipun orang-orang dari segala usia sama-sama kurang pandai dalam mendeteksi informasi yang salah ang semakin sulit dilakukan di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI). Anak Generasi Z ternyata sangat rentan tertipu.

Mengapa? Ada lingkaran umpan balik berbahaya yang terjadi. Banyak anak muda yang semakin skeptis terhadap institusi dan lebih cenderung mempercayai teori konspirasi. Hal ini membuat mereka menghindari media berita arus utama dan membenamkan diri dalam komunitas-komunitas daring yang sempit yang kemudian memberi mereka informasi palsu berdasarkan algoritma yang kuat, dan semakin memperdalam ketidakpercayaan mereka. Ini adalah jenis pola konsumsi media yang sangat berbeda dari generasi yang lebih tua, yang menghabiskan lebih banyak waktu dengan media arus utama. Konsekuensinya bisa sangat mengerikan.

Kita bahkan pernah menyaksikan sendiri fenomena itu di lingkungan sosialnya, di mana teman-teman yang berusia 20-an mulai mengulang apa yang mereka lihat di TikTok seolah-olah itu adalah fakta. Kini, ia dan teman-temannya sering merasa perlu bertanya apakah “sumber” informasi yang didapat berasal dari video TikTok, dan apakah mereka setidaknya sudah mencoba mencarinya di Google setelahnya. Jawabannya biasanya adalah tidak.

Informasi yang salah yang dilihat orang di TikTok dan media sosial lainnya berkisar dari yang berbahaya hingga yang absurd. Misalnya, pernah ada suatu periode ketika sebagian anak muda di aplikasi tersebut mempertanyakan kisah hidup Timothy Ronald, yang meraih kesuksesan dari trading dalam waktu singkat walaupun sebagian besar mungkin saja gagal menirunya.

Di Amerika pernah gempar, ketika Badai Helene dan Badai Milton melanda Carolina Utara dan Florida, muncul klaim bahwa pemerintah sedang “merekayasa geologi” cuaca—yang viral di media sosial—karena orang-orang menduga bahwa Partai Demokrat berada di balik kerusakan di daerah-daerah yang mayoritas pendukung Partai Republik. Tren terbaru lainnya adalah lemak sapi sebagai perawatan kulit. Jika ada remaja di sebelah Anda yang berbau minyak goreng, kemungkinan besar mereka telah menjadi korban dari video-video yang mengklaim bahwa lemak sapi baik untuk wajah Anda, meskipun ada peringatan dari para dokter kulit.

Kesamaan dari semua teori konspirasi yang viral di TikTok adalah bahwa teori-teori tersebut dipicu oleh ketidakpercayaan terhadap institusi—mulai dari sekolah, hingga Badan Meteorologi Nasional, hingga lembaga medis. Sentimen ini juga meluas ke dunia media: hanya 16 persen Generasi Z yang memiliki kepercayaan kuat terhadap berita. Maka tidak mengherankan jika begitu banyak anak muda menjauhi publikasi tradisional dan mencari berita di media sosial, sering kali dari akun-akun yang tidak terverifikasi dan minim pengecekan fakta.

Dampaknya sangat besar bagi politik Amerika. Tanpa adanya koreksi arah, sebagian besar pemilih berpotensi menjadi korban berita palsu dan teori konspirasi pinggiran di internet—yang kemungkinan besar akan mendorong polarisasi politik ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam hal pengecekan fakta, Generasi Z cenderung memiliki metode khas mereka sendiri: membuka kolom komentar.

“Mereka cenderung merasa nyaman mengandalkan kepercayaan agregat, jadi mereka akan mengandalkan ulasan Yelp atau ulasan Amazon,” kata Daniel Cox, seorang peneliti jajak pendapat yang mensurvei kaum muda. “Ini terdengar sangat mirip, bukan? Mereka melihat apa yang dikatakan orang lain tentang sebuah artikel atau produk dan mendasarkan keputusan mereka pada hal itu.”

Namun, di era algoritma yang maha kuasa, kolom komentar sering kali justru menjadi ruang gema. Hanya sedikit pendapat tandingan yang muncul karena algoritma menyajikan video kepada orang-orang yang berpikiran sama dan memiliki perspektif yang sama tentang suatu subjek, terlepas dari akurasi kebenarannya.

“[Algoritma] ini membantu memisahkan orang dengan cara yang sangat mengkhawatirkan bagi saya,” tambah Cox. “Kita tidak berbagi pengalaman yang sama secara daring kita memiliki pengalaman yang sangat terpisah dan berbeda berdasarkan jenis kelamin, orientasi seksual, atau politik kita. … Segala sesuatu yang Anda alami, Anda dapat menemukan semacam validasi secara daring.”

Ini adalah tren lintas partai: para pendukung dan pembenci Presiden Donald Trump sama-sama cenderung percaya pada informasi palsu yang sudah sesuai dengan pandangan dunia mereka.

Contoh utama dari dinamika ini adalah cuplikan suara viral palsu Trump yang diduga menyatakan bahwa Distrik Columbia harus diganti namanya menjadi Distrik Amerika. Audio tersebut telah dibantah sebagai hasil buatan AI, tetapi Anda tidak akan mengetahuinya jika hanya melihat bagian komentar dari video-video yang bereaksi dengan tidak percaya. Dalam satu video yang telah meraih lebih dari 250.000 suka, komentar-komentar yang muncul sama sekali tidak mempertanyakan sumber klip audio tersebut, melainkan hanya berbagi kengerian yang sama. “Mengapa kita memiliki presiden terbodoh (Donald Trump) dalam sejarah Amerika??” bunyi komentar teratas. Pengguna harus menggulir jauh ke bawah hingga akhirnya menemukan klarifikasi dari pembuat video, yang berkomentar sehari kemudian: “Saya pikir itu adalah AI.”

Ruang gema semacam ini membantu menjelaskan meningkatnya ketertarikan Generasi Z terhadap teori konspirasi. Kita sekarang telah melampaui stereotip lama tentang seorang penyendiri di ruang bawah tanah dengan topi aluminium foil. Saat ini, para pecandu TikTok yang terkurung dalam kepompong politiknya sendirilah yang paling rentan terhadap informasi yang salah.

Kaum muda bukanlah satu-satunya pihak yang harus disalahkan atas rendahnya literasi digital mereka. Di sekolah, para siswa diajarkan untuk membaca dengan saksama dan teliti yang menurut para peneliti disinformasi, secara tidak sengaja justru memperkuat gagasan bahwa siswa harus meneliti satu video dan menentukan keakuratannya hanya dengan mata mereka sendiri, daripada meninggalkan halaman tersebut dan membuka Google.

Teknologi disinformasi berkembang begitu pesat sehingga menjadi tidak mungkin lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah hanya dengan pengamatan visual. Bagi generasi yang lebih tua, yang mengenal internet di usia yang lebih matang, setidaknya masih ada sedikit skeptisisme alami terhadap apa yang mereka lihat secara daring. Namun bagi kaum muda, sikap skeptis itu harus diajarkan.

Menurut Rakoen Maertens, seorang ilmuwan perilaku dari Universitas Oxford, Generasi Z sangat rentan terhadap informasi yang salah dibandingkan kelompok usia yang lebih tua, bukan hanya karena kebiasaan media sosial mereka, tetapi juga karena mereka memiliki lebih sedikit pengalaman hidup dan pengetahuan untuk membedakan realitas. Maertens, yang ikut menciptakan tes untuk mengukur kemungkinan seseorang tertipu oleh berita palsu, mengatakan bahwa meskipun Generasi Z saat ini paling mungkin tertipu, masih ada harapan bahwa seiring berjalannya waktu mereka akan menjadi lebih baik dalam mendeteksi kepalsuan, seperti halnya generasi sebelumnya.

Namun, ada pula alternatif lain yang jauh lebih menyedihkan dan kemungkinannya sama besar yakni bahwa sisa populasi akan bernasib sama seperti Generasi Z. Lagi pula, seiring dengan semakin melekatnya internet dalam kehidupan masyarakat dan semakin banyak platform yang mengadopsi algoritma yang mendorong pengkotak-kotakan informasi, bahkan generasi yang lebih tua yang sebelumnya skeptis sekalipun mungkin lambat laun akan mengadopsi kebiasaan konsumsi media ala kaum muda—dan menjadi sama rentannya terhadap teori konspirasi serta disinformasi yang dipicu oleh AI.

“Ini adalah masalah sistemik,” kata Breakstone. “Bukti jelas menunjukkan bahwa orang-orang dari segala usia kesulitan memahami banyaknya informasi yang mereka temui secara online, dan kita perlu mencari cara untuk mendukung orang-orang, untuk menemukan cara yang lebih baik dalam memahami konten yang mengalir melalui perangkat mereka.” [Red]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top